ETERNAL GATE-Chapter #02
ETERNAL GATE
|
Chapter #02-TEST
Kirikaya Sena
24-10-2019
“Ichiya Guren, kamu hari ini akan melaksanakan ujian untuk menjadi wakil ketua divisi ini, kami mengharapkan yang terbaik darimu.”
“HA!!!!!!!”
Aku terkejut akan hal yang baru saja di katakan oleh perempuan ini. Menjadi wakil ketua? Gimana bisa begitu. Lagi pula perempuan ini kaptennya?
Sina yang tak setuju, langsung menentang perkataan perempuan itu.
“Apa kau serius, Tante Miyako.” Ucap Sina dengan nada tinggi.
“sudah berapa kali ku bilang jangan panggil aku tante.” Ucapnya dengan tatapan kesal
*EHEM!*
“Seperti yang kita tahu divisi kita adalah divisi dengan kekuatan paling kecil di bandingkan divisi lain, jadi kita harus menerima anggota baru dan kebetulan kita bertemu manusia yang bertahan hidup di underworld dialah yang cocok menjadi wakil ketua divisi ini.”
“Tapi!-“
“Tidak ada tapi-tapian.”
“Tch!, bilang saja kamu mau dekat dengan cowok.” bisik sina.
“Ha!?” Tatapan kapten berubah menjadi seram, aura hitam terlihat di sekitar tubuhnya. Dengan hawa membunuh yang membuat bulu kudukku merinding.
Aku hanya terdiam melihat ekspresi kapten yang menyeramkan tadi.
“Tadi kau bilang ujian, apa maksudnya itu.” Ucapku
“seperti yang ku katakan barusan, kami kekurangan orang dan kami mendapatkan kalau ada orang yang bertahan hidup di underworld maka kami ingin mengundangnya kemari.” Jelas Kapten kepadaku.
“Terus dimana itu akan dilaksanakan.”
“Ujian akan di laksanakan di kota raeight, hanggar utama Katedral, kapal kita sedang menuju tempat itu.” ujar kapten.
“Oh.”
Aku di suruh untuk menunggu di ruang tunggu sampai kami tiba ke Katedral. Dari sini aku bisa melihat pemandangan di luar, dan di sana aku melihat kota besar yang melayang, valkryie Town Katedral.
Setelah sampai di katedral, kami di sambut oleh para ketua divisi kapal perang lainnya yang turun dari kapal mereka, dan terlihat megah dengan seragam mereka masing-masing. Kalau dipikir lagi divisinya Miyako tidak memiliki seragam, mereka memakai baju mereka masing-masing.
Aku pun turun dari kapal ATHEINER, dan menginjakkan kaki ku di kota raeight.
Katedral, salah satu kota melayang terbesar di dunia. Sejak datangnya makhluk mengerikan yang di beri nama NOIR, manusia menemukan sumbar daya baru yaitu, sihir. Yap seperti yang ada di game RPG banyak yang memasukkan soal kekuatan fantasi yang bernama sihir, dan seminggu setelah makhluk yang bernama NOIR itu datang umat manusia mendapatkan secarik harapan dengan munculnya kekuayan fantasi yang mirip dengan sihir di game RPG.
Namun energi itu sebagian besar hanya bisa di pakai oleh perempuan, sementara laki-laki hanya bisa memakai sihir tingkat rendah seperti sihir pengamatan dan sihir suport, laki-laki yang bisa menggunakan sihir serangan tingkat menengah saja sangat jarang ketemu.
Maka dari itu para perempuan yang bisa memakai sihir tingkat menengah sampai tingkat tinggi akan di jamin kehidupannya. Serta para perempuan itu di sebut Valkryie.
Setelah berjalan cukup jauh kami pun tiba di suatu tempat di pinggir kota, tempat itu terlihat seperti pusat komando.
Miyako dan Yui masuk ke gedung itu, aku pun mengokuti mereka. Di dalam sana terdapat para ketua kapal yang berbaris di lapangan, di sertai para anggotanya di belakang mereka. Kebanyakan posisi ketua di dominasi oleh perempuan, karena memang di dunia ini perempuan lebih kuat di banding laki-laki.
Miyako langsung berbaris mengikuti para ketua yang lain, dan aku pun ikut saja.
Setelah ku perhatikan lebih seksama jumlah anggota miyako hanya sedikit di bandingkan jumlah anggota divisi lain. Anggota yang berbaris di lapangan hanya beberapa anggota, sisanya duduk di kursi penonton. Selain itu jumlah ketua hanya ada 6 termasuk dengan Miyako.
Dimana ketua yang satu lagi?
Ketika aku sibuk berfikir soal perbedaan kekuatan dari divisi Miyako dan divisi yang lain.
“Jadi kamu orang yang di kabarkan bisa bertahan hidup di underworld.” muncul perempuan dengan rambut putih panjang, berpakaian hitam didampingi oleh laki-laki berambut pirang dengan pakaian yang hampir sama.
Perempuan itu menunjuk kearah ku. Para ketua juga menoleh dan mengalihkan perhatiannya kepada ku.
“Iya, nama saya Ichiya guren, mohon maaf tapi, Anda siapa?” ucap ku dengan tenang
“Oh maaf atas ke tidak sopanan ku, perkenalkan namaku Charlotte Voline, ketua divisi pertama, heracles.”
Sudah ku duga, dia ketua divisi pertama, orang yang memiliki kekuatan terbesar di organisasi ini. Tapi kenapa aku tidak merasakan auranya, apa benar dia orang terkuat di organisasi ini?
“Um.. Ichiya Guren, apakah benar kamu tinggal di permukaan?”
“Kan sudah ku bilang tadi, iya.”
“Berarti kamu mempunyai kekuatan yang cukup untuk bertahan di permukaan?” ucap seseorang menyelah percakapan kami
Orang itu berdiri dan berteriak.
“Ha!, jangan bercanda!, orang seperti kau! tidak mungkin mempunyai kekuatan untuk bertahan hidup di permukaan. Melawan Queen NOIR saja sampai hampir mati.”
EH... DENGAR YA, AKU DALAM KEADAAN LAPAR DAN CAPEK WAKTU ITU YA!!. WAJAR AJAK AKU BABAK BELUR, MANA SENJATA KU UDAH GK KUAT LAGI.
Ucapku dalam hati.
Suasana mulai bising akan bisikan orang-orang, sementara itu charlotte, mulai menatap tajam ke arahku. Saat itu aku merasakan aura mengerikan dari nya. Charlotte bertanya kepadaku.
“Apakah itu benar?”
Aku hanya bisa mengiya kan pernyataan dari orang itu, karena memang benar apa yang di katakannya. tatapan charlotte berubah menjadi tatapan orang yang merendahkan atau mengasihani ku.
“Apa pun alasannya kamu adalah manusia yang berhasil bertahan hidup di permukaan, pasti kau menyembunyikan sesuatu. Maka dari itu kami akan melihat seberapa kuatnya kau.”
Ucap Charlotte meremehkanku, dan sedikit kesal melihat mukanya yang mermehkanku.
Ujian yang seharusnya di hadapi untuk masuk devisi adalah pertarungan dengan golem atau bisa di bilang boneka elemental yang di kendalikan. Seharusnya begitu tapi, karena provokasi kurang ajar dari orang yang bahkan tak ku kenal tadi, serta karena aku orang yang berhasil bertahan hidup di permukaan maka aku harus melawan salah satu wakil ketua dari divisi lain.
“Bagi seseorang yang ingin mengetes kekuatannya silakan angkat tangan”
Orang-orang mulai berbisik, dan ada dua orang yang mengangkat tangan yaitu pria dengan tubuh besar dan perempuan berkacamata.
“Ha!?,oy-oy-oy-oy!, neng vina kau tak cukup untuk mengetes seberapa kuat dia dengan tubuh kecil mu itu, HAHAHAHA!.” kata pria besar itu, dan aku kenal suaranya. Dia orang yang memprovokasi aku sampai harus melewatai hal merepotkan seperti ini.
“Jangan sombong kau dasar pria. Tingkat sihirmu itu hanya sampai tingkat menengah, selain itu dengan cara bertarung yang brutal mu itu tidak akan bisa mengukur kekuatannya dasar gorilah bodoh berotak kecil.”
Wah... kasar sekali mulutnya itu.
Mereka mulai berdebat dengan serunya. Aku malah ingin memprovokasi mereka agar bertarung duluan tapi ku tunda keinginan itu, dan aku kepikiran hal yang lebih baik.
“Boleh saja kalau kalian mau, akan ku lawan kalian berdua sekaligus.”
Tak lama kemudian semua orang tertawa, lebih tepatnya menertawakanku. Memang perkataanku terlihat seperti orang bodoh karena menantang dua wakil ketua dengan mudahnya.
“HAA!!! Apa kau bodoh ha!? Sudah ku duga kau itu orang terbodoh yang pernah ku temui.” teriak Sina dengan muka kesalnya itu, dan mulut yang kasar itu.
Sekali lagi emosi ku tersulut ketika mendengar perkataan sina barusan.
“Apa yang dikatakan Sina benar Guren, itu terlalu nekat dan tidak mungkin kamu bisa meladeni kedua wakil ketua.”
“Tenang-tenang, aku tau apa yang aku lakukan kok”
“TAPI-“
“Baiklah kalau begitu, Ichiya Guren akan melawan Hiiragi Viona, dan Hersent Gladio” ucap Charlotte
Aku menatap kedua orang itu yang kembali membalas tatapan ku dengan tatapan dingin.
Seketika seluruh ruangan terdiam seluruh tubuh mereka merinding, membatu, karena merasakan hawa membunuh yang kuat di sekeliling mereka. Kedua orang itu mulai berbicara dengan nada sombong.
“He!, sepertinya kami yang jadi di remehkan nih. Oke lah kalau begitu kami berdua akan melawan mu.”kata mereka berdua dengan serentak.
Mereka berdua turun dan membawa senjata mereka.
Si pria besar yang membawa pedang besar dan dia bisa mengangkatnya dengan mudah, dia merupakan salah satu prajurit laki-laki dengan kekuatan penghancur yang besar, tipe orang yang suka mengamuk dengan pedang besar itu, sang penghancur, Hersent Gladio.
Sedangkan si perempuan dia memakai katana(pedang jepang), dilihat dari tubuhnya yang ramping dia memiliki pergerakan manuver yang lincah dan gesit, sedangkan penguna katana seperti dia memiliki keunggulan dalam kecepatan menebas, sang angin Hiiragi Vina.
“Ku dengar bahwa pedang kau hancur? Apa harus aku pinjamkan pedang latihan ku saat kau masih kecil? HAHAHAHA!!!” ucap Gladio dengan nada mengejek.
Aku hanya diam mendengar perkataannya. Tak lama kemudian muncul panel dengan beberapa senjata yang terpapar di sana.
“Ambillah senjata yang kau butuh kan, dan Gladio serta Vina akan memakai peralatan yang setara dengan mu.” Ucap Charlotte kepadaku, Gladio sedikit tidak suka dengan apa yang baru di lakukan Charlotte.
Aku berjalan ke panel itu dan mengambil dua buah pedang dengan bilah pedang yang tidak terlalu panjang. Bentuknya mirip dengan katana tapi pedang ini lebih pendek(kodachi).
“He!, jangan bilang kalau senjata itu yang akan kau pilih.” Gladio tertawa terbahak-bahak.
“Sepertinya kami benar benar sudah di remehkan.” Kata Vina dengan tatapan yang menyelah ku.
Aku menghiraukan perkataan mereka dan mulai berjalan menuju ke tengah arena.
Di sisi lain Yui yang melihat dari pinggir arena bergumam.
“Apa kamu serius Guren?”
“Hmm....? Ada apa Kak Yui?”
“Oh, enggak kok kamu bisa lihat pedang yang di pegang Guren itu?”
“Iya, bukannya pedang itu mirip dengan pedang kecil yang biasa di bawa oleh Kak Yui kan?”
“Enggak, itu beda. Pedang yang biasa ku bawa untuk pertarungan jarak dekat itu adalah Kawazaki, sedangkan yang di ambil Guren itu Kodachi.” Jelas Yui kepada Sina.
“Emang apa bedanya?”
“Kodachi itu pedang yang terlalu pendek untuk di bilang katana sedangkan dia terlalu panjang untuk di bilang kawazaki. Pedang itu memang bagus untuk pertahanan tetapi kurang efektif untuk menyerang, harus menggynakan kombinasi yang tepat agar bisa melukai musu dengan pedang tanggung itu.”
“Kalau begitu..”
“Ya, ini akan menjadi pertarungan yang sulit bagi Guren.”
Aku berjalan ke tengah arena, menyimpan salah satu pedang ku di belakang pinggangku. Ku tarik pedang itu keluar dari sarungnya. Sebuah bilah pedang yang tajam dengan elukan melengkung serta besi yang sudah di poles memantulkan refleksi bayangahku.
Aku memasang kuda-kuda untuk menyerang.
“Pertarungan DIMULAI!!!!.”
Bel tanda pertarungan di mulai sudah berbunyi, Vina melompat maju sambil menjaga jarak serangku. Sepeetinya dia mengetahui kelemahan dari Kodachi yaitu jangkauan serangnya yang kurang. Vina terus menyerang ku tanpa ampun.
Sedangkan aku melihat Gladio tetap diam di tempat. Mengejutkan kalau orang yang bar bar seperti Gladio tidak langsung menyerang secara brutal. Di sana dia mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
Gladio adalah tipe berserk maka serangnya memiliki kriteria yang berat dan kuat tapi, butuh waktu lama dalam pemakaian tekhniknya. Senjata yang dia pakai merupakan broadsword, sebuah pedang besar dengan daya hancur yang besar. Dari kuda-kudanya terlihat kalau dia akan mengeluarkan serangan dengan daya hancur yang besar.
Gladio mengangkat pedang besarnya dengan kedua tangannya ke atas, pedangnya memancarkan sinar hijau yang di kelilingi oleh partikel sihir. Dia mengayunkan ke bawah pedangnya dengan sekuat tenaga. Sebuah tebasan berwarna hijau keluar dari tebasan Gladio yang semakin membesar.
Aku mencoba menjauh dari area serang tebasan itu tetapi tebasan besar itu tidak bisa ku hindari, karena Vina terus mendesakku kearah area tebasan Gladio. Ketika aku terjebak dari dua arah, Vina mengangkat pedangnya keatas bersiap melancarkan serangan terakhir. Vina menghiraukan tebasan Gladio yang semakin mendekat.
“Tch!!”
Kalau terus begini bahkan Vina juga akan terkena serangannya. Maka dari itu aku menhambil langkah maju dengan cepat ke depan wajah Vina. Vina kaget dan mencoba untuk mengubah kuda-kudanya namun itu terlambat. Aku menendang Vina menjauh dari area serangan Gladio.
Serangan Gladio sudah berada persis di belakangku. Aku berbalik dan memblok serangan itu dengan talapak tangan kirikku
*DGAAARRR!!!!*
Suara ledakan tebasan terdengar menghancurkan semuanya. Vina yang ku tendang barusan tak terkena dampak dari serangan Gladio.
“HEI!! DASAR BODOH, KAU MAU MEMBUNUHKU KAH? DASAR PRIA BIADAB.” Ucapnya dengan kesal.
Asap debu yang menutupi arena mulai hilang. Di ikuti dengan bisik-bisik heran dan keterkejutan. Aku masih berdiri dan tak terluka sedikit pun meski terkena serangan dari Gladio barusan.
“A-a-apa!? Tidak terluka sedikit pun?” ucap Gladio terkejut heran.
Wajar saja dia kaget, gladio merupakan salah satu berserker dengan daya hancur yang hebat di divisinya, melihat seseorang bisa bertahan dari serangan yang dia bangga kan pasti membuatnya syok.
“Hee..... Cuma segitu aja? Sepuluh- enggak level delapan sepertinya.“
Ucapku sambil menatap Gladio dengan wajah dingin. Gladio terbawah emosi setelah mendengar perkataanku,dan di tambah dengan rasa kesal dari serangannya yang gagal. Terlihat dari wajahnya yang kesal itu.
Galido memasang kuda-kuda, mengangkat pedang besarnya dengan kedua tanggannya. Lalu mengentakkan pedangnya ke lantai. Terjadi getaran besar akibat hentakan pedang Gladio. Getarannya bukan main aku hampir saja kehilangan keseimbangan.
Ketika aku mencoba mempertahankan keseimbangan, tanpa ku sadari Vina sudah berada di belakangku. Dia dengan cepat menarik pedangnya langsung ke leherku.
Aku menarik kepala ku ke belakang, menghindari serangannya. Aku menahan tubuhku yang mau jatuh dengan tangan kananku, lalu memutar tubuku ke belakang dan mendarat dengan selamat.
Aku kembali memperbaiki kuda-kuda ku. Bersiap untuk menangkis serangan apa pun.
Di sisi lain Vina menyarungkan pedangnya. Dia membuat kuda-kuda dengan tubuh yang sedikit merunduk mengarah kesamping, bersiap untuk menarik pedang tersebut dengan cepat. Kuda-kuda seperti ini biasa dipakai untuk serangan cepat.
Hiiragi Vina, terlihat seperti orang yang sangat serius di tambah dengan akesori seperti kacamata itu menambah kesan tekun di dalam dirinya.
Vina dengan cepat melompat maju, menarik pedangnya dengan cepat secara horizontal. Tebasan yang sangat cepat, untuk mata orang lain yang terlihat hanya lah kilatan tebasan yang cepat nan elegan saja. Mereka tidak benar-benar melihat serangan kedua dari tebasannya yang mengerikan itu.
Tebasannya memang cepat tapi tidak terlalu susah untuk di hindari. Jika kecepatannya itu saja yang ku waspadai maka itu hanya terlihat seperti 3 tebasan beruntun yang mengincar leher, perut, dan bahu.
Aku dengan tenang menghindari tebasannya yang cepat dengan gerakan seminimal mungkin. Biasanya orang yang melihat kecepatan secepat itu akan langsung mengambil langkah mundur, dan itu justru akan memberi keuntungan bagi Vina. serangan pertama hanyalah umpan, seranagan sebenarnya adalah serangan kedua dan ketiga yang susah dilihat. Sangking cepatnya hanyan terlihat seperti satu tebasan.
Maka dari itu aku menepis serangannya ke arah yang lain dan dengan cepat melompat maju langsung ke hadapan Vina. Katana membutuhkan jarak yang sedikit jauh setidaknya satu langkah di depan, tetapi melakukan tebasan dari jarak dekat menggunakan katana bukan lah hal yang di sarankan. Maka dari itu pengguna pedang Kodachi seperti ku di untungkan dalam pertarungan dengan jarak yang sempit.
Vina yang terkejut mencoba melompat ke belakang tapi, mana mungkin aku membiarkannya. Aku menarik kera bajunya dan menodongkan pedangku kelehernya.
“Gimana? Menyerah?”
Diriku yang merasa kalau aku sudah menang, merasakan aura membunuh yang tajam dari samping kiri kami, itu Gladio.
Kelihatannya dia masih kesal dengan permasalahan yang sama. Dasar anak galau.
Dia memasang kuda-kuda yang sama dengan serangan tebasan besar tadi. Energi sihir Gladio mengalir keseluruh pedang, menciptakan cahaya hijau seperti sebasan yang di pakainya tadi. Gladio menatapku kesal, dia berteriak ketika mengayunkan pedangnya.
“AAAAAA!!!!!!”
Teriakan Gladio terdengar sampai keluar arena. Dia mengatunkan pedang besarnya itu. Terlihat sebuah tebasan yang lebih besar dari yang tadi.
Oy! Bodoh! Vina ada di sini lho. Kau ingin membunuh kami berdua?
Aku langsung menggendong Vina dan melompat kebelakang. Wajah Vina memerah ketika aku menggendongnya tapi aku tidak menyadarinya karena focus dengan tebasan besar itu.
Ketika mendarat aku mencoba agar tidak melukai Vina. Aku mengulurkan tangan kiriku ke arah tebasan itu.
“DRAIN TOUCH,OVER HEAT”
Seketika bentuk dari tebasan berwarna hijau itu menghilang menjadi partikel sihir tipis dan terisap ke tangan ku. Vina yang berada di pangkuanku terpaku melihat fenomena yang terjadi. Aku menyerap semua tebasan sihir yang di keluarkan gladio.
Aku menurunkan Vina yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
“Kamu enggak apa-apa?”
Wajah Vina kembali memerah. Dia langsung berdiri dan melompat kebelakang, memegang pedangnya dengan waspada.
Aku berdiri dengan santai dan memasang kuda-kuda dengan pedang yang ku pegang terbalik.
Aku menarik pedangku kebelakang. Menyalurkan seluruh energi sihir yang kuterima dari serangan Gladio yang aku serap.
Pedangku dilapisi sinar berwarna hijau sama seperti serangan Gladio tadi.
Aku mengeratkan peganganku dan mengayunkan pedang yang ku pegang terbalik itu secara diagonal kearah Gladio.
Vina menyadari bahaya dari apa yang akan ku lakukan, sedangkan Gladio dia masih terengah engah akibat kehabisan energi.
Gelombang berwarna hijau tipis yang bersinar muncul tepat ketika aku mengayunkan pedangku yang di lapisi energi sihir.
Vina tidak berada di area serangan jadi dia tak perlu khawatir tapi, Gladio dia tak bisa menghindar dengan tubuh yang terengah-engah itu.
Gladio menancapkan pedang besarnya di depan dirinya sebagai pelindung. Vina yang berada di area yang tidak terkena serangan berlari mencoba menyerangku tapi, tak jadi karena hal itu malah akan membuat dia terkena serangan ku.
Vina secara antusias memberikan mantra jarak jauh ke pedang Gladio agar bisa menahan seranganku.
*DGARRRRR!!!!*
Terdengar suara keras yang memekikkan telinga diiringi dengan debu yang beterbangan ke mana-mana.
Penonton terdiam membisu, mereka focus ingin melihat apakan Gladio jagoan mereka baik baik saja.
Ketika debu di sana menghilang. Terlihat gladio yang tergeletang dengan pedangnya yang hampir terpotong habis. Luka yang di derita Gladio tidak terlalu parah. Berterima kasih lah kepada Vine yang memberikan mantra kepedangmu sebagai perisai.
Disisi lain Vina kehabisan energi karena seluruh energinya dipakai untuk memepertahankan pedang Gladio.
Suara di tempat ini mulai ramai dengan bisikan dan juga keheranan para penonton. Aku melirik Yui dan Sina yang terkejut dengan hal yang baru mereka lihat. Sedangkan Miyako tersenyum lega ketika melihatku.
“CUKUP SAMPAI DISANA!!!!! Pertandingan ini dimenangkan oleh Ichiya Guren.”
Ucap laki-laki yang berada di samping Charlotte. Ruang Arena bertambah ramai dengan bisik-bisikan. Di tengah kebisingan itu charlotte berbicara dan seketika seluruh arena terdiam tak berbicara.
“Kalian diamlah! Ehem.. bisakah kamu menjelaskan apa yang terjadi batusan.”
Seketika penonton terdiam setelah mendengar Charlotte berbicara. Mereka seakan di diamkan oleh aura sang raja saat Charlotte berbicara. Tiba-tiba seseorang berdiri dari bangku penonton dan berbicara.
“Itu benar!, dengan tingkat sihir seperti itu tidak mungkin kau bisa melancarkan serangan seperti tadi.”
“Apa katamu? Aku tidak berbicara denganmu duduklah!”
Penonton itu terdiam dan tak bisa melawan kata-kata Charlotte.
“Fried, beritahu aku statistik nya.”
Charlotte memerintahkan laki-laki yang berada di sampingnya.
Pria itu menatapku dengan tatapan yang tajam, matanya terlihat sedikit mengeluarkan refleksi berwarna unggu sesuai warna matanya.
“TCH! pengguna Appraisal.”
Appraisal. Merupakan salah satu dari sihir yang paling banyak di miliki oleh laki-laki. Sihir ini adalah sihir merupakan sihir informatif yang dapat melihat tingkatan sihir atau statistik suatu mahkluk. Status yang terlihat biasanya adalah MAGIC LEVEL( tingkatan sihir), level ancaman atau level Valkryie(tingkatan kekuatan dari suatu mahkluk), terkadang ada juga DEFENSE LEVEL(tingkatan pertahanan).
Lelaki itu terkejut melihat statusku.
“Apa-apaan ini?”
“Ada apa, Fried?”
“Dia hanya mempunya Magic kevel tingkat menengah bawah, sedangkan level amcamannya hanya level 3.”
Freid terdiam membatu, dia tidak percaya akan statiatik ku yang baru saja dia liat. Charlotte menatap aku dengan tatapan curiga.
“Ada sesuatu yang kau sembunyikan? Statistik dengan level menengah bawah tak mungkin dapat membuat serangan sekuat tadi, pasti ada triknya. Cepat beritahu aku!” Ucap Vina yang hampir tidak sanggup untuk berdiri karena kehabisan energi.
Para penonton sedikit demi sedikit terdiam, memaksaku untuk memecah keheningan yang canggung ini Dengan jawaban yang mereka inginkan. Setelah aku pikir pikir kembali hanya dengan memberitahukan semuanya untuk ekuar dari kecanggungan ini.
Aku pun melihat sekeliling dan membuka mulutku.
“Apa di sini ada Valkryie dengan tipe serangan jarak jauh?”
Suara bisik-bisik pun kembali datang menghilangkan suasana sunyi nan canggung tadi.
Salah seorang gadis berdiri dari kursi penonton. Berkata dengan sedikit gagap. Di celananya terdapat sebuah pistol yang dibungkus oleh sarung pistol dengan warna coklat, di paha kanannya itu.
“Kalau begitu Nona, bisa kah kamu menembakku dengan pistol mu itu? Tentu saja isi pelurunya dengan sihir yang paling kamu suka.”
Vina mengerutu di pojokan ketika mendengar aku berbicara dengan gadis itu
“Dasar, sok ganteng dia, pakai muji muji nona segala. Pret!”
Suara bisik-bisik di ruangan ini bertambah besar, aku bahkan bisa mendengar apa yang mereka bilang. Sedangkan gadis itu terkejut akan hal yang baru saja ku katakan, wajahnya terlihat seakan dia berkata kalau aku terlihat seperti orang yang cari mati.
Dia menarik nafas panjang dan gadis itu menggeluarkan pistolnya dari sarungnya dan menodongkannya kearah ku.
Tangannya terlihat getaran, sepertinya dia masih murid latihan dan aku juga baru sadar kalau dia dari disivu Miyako. Di lihat dari postur tubuh saat membidik, cara dia bernafas dan juga tangan yang gemetar itu benar-benar menunjukan kalau dia belum pernah turun ke medan pertarungan yang sesungguhnya. Namun dia mempunyai postur tubuh yang bagus tapi terlihat sedikit salah.
Dia terlihat enggan untuk menembak, nafasnya semakin tidak beraturan.
Ini hanya pemikiran ku sendiri tapi sepertinya hal yang terpikirkan oleh gadis ini sepertinya “ bagaimana jika dia beneran mati?” hal itu terlihat dari gerak geriknya yang terlihat takut. Seseorang menepuk pundaknya dan memberikan sedikit semangat kepada gadis itu.
Gadis itu mengambil nafas panjang lagi dan mengatur kembali nafasnya. Matanya tertuju kepadaku, lurus tanpa keraguan sama sekali dia sudah mengumpulkan tekadnya.
Dia mulai mengumpulkan sihirnya ke dalam selosong pistolnya.
Cahaya kuning keemasan dengan cantiknya menari mengelilingi pistolnya. Cahaya itu mulai memadat masuk ke dalam selosong pistol dan melapisi peluru itu sampai cahayanya merembes keluar dari sela-sela pistol.
Aku memasang kuda-kuda dan mengulurkan tangan kiriku ke arah gadis itu.
Gadis itu menarik pelatuk pistolnya.
Sebuah peluruh sihir berwarna kuning keemasan melayang lurus ke arah ku dengan cepat. Peluruh itu terkilat seperti laser kuning keemasan yang akan menembus tubuh ku.
Aku memblok peluruh itu dengan tangan kiriku.
“DRAIN TOUCH!”
Peluruh itu langsung melambat dan berhenti di depan tangan kiriku serta energi sihir yang melapisi peluruh itu terurai dan di serap oleh tangan kiriku. Aku pun menangkap peluruh itu dan menunjukkannya ke Yui dan teman-temannya.
seluruh penonton terdiam. Charlotte hampir tidak bisa percaya akan apa yang baru saja dia saksikan namun dia tersenyum licik melihatku lebih tepatnya tangan kiriku. Yui dan teman-temannya tercengang dengan apa yang baru dia lihat, mereka bahkan tak bisa berkata apapun.
Charlotte merubah senyuman liciknya tadi dan bertanya kepadaku.
“Bisakah kamu jelaskan tentang teknik mu barusan. ”
“apakah dugaanku benar kalau kau menyerap energi sihir dari serangan lawan.”
“Yap kamu benar, DRAIN TOUCH merupakan salah satu dari skill ku, skill ini mampu membuat salah satu dari anggota tubuh pengguna bisa menyerap sihir yang di sentuh, dan mengubahnya menjadi kekuatan ku sendiri.”
“Jadi itu yang kau lakukan untuk menahan tebasanku.”
Aku mengangguk, mengiyakan hal yang baru saja Gladio katakan barusan.
“Tapi itu tidak mungkin, tebasan ku itu sangat kuat bahkan bisa mengalahkan dua QUEEN NOIR sekaligus.”
“Memang benar teknik mu itu benar-benar kuat dan berbahaya ,tapi serangan mu itu ringan.”
“A-apa?”
“Apa maksudnya itu tuan Guren.”
Ucap vina yang sangat tertarik dengan percakapan ini. Sepertinya dia senang bisa mendaoaykan kelemahan dari Gladio.
“Teori dari teknik Gladio adalah membuat energi sihir setipis mungkin sehingga sihir itu bisa memotong apapun.”
“Apa maksudmu tipis, memang benar serangannya benar-benar tajam tapi bukanya serangan Gladio itu sebuah tebasan besar.”
“Yap, normalnya seorang laki-laki tak akan bisa membuat tebasan yang besar dan mengerikan seperti itu namun, untuk orang yang mempunyai tingkat sihir menengah atas seperti Gladio ceritanya beda lagi. Tebasannya terlihat besar tapi jika di lihat lebih dekat maka kamu akan melihat kalau tebasanjya itu terlihat seperti jaring besar dengan tali sihir yang tipis sehingga membuat tebasan dengan kerusakan besar.”
“Jadi dengan membuat ukuran tebasan sihir setipis mungkin itu bisa membuat tebasan itu lebih tajam bahkan bisa memotong apapun.”
Vina menganggukkan kepalanya yang sambil berpikir, sepertinya dia nyambung dengan apa yang ku ucapkan. Sedangkan Gladio terlihat bingung, hal itu membuatku heran dengan apa yang terjadi. Dia menciptakan teknik ini tapi dia tak mengerti teorinya. Yah itu pasti tidak mungkin.
“Tapi jika dia membuat ukuran tebasan nya setipis mungkin kenapa bentuk nya bisa terlihat besar?”
“Kan sudah aku bilang tadi, kalau itu karena jumlah dari tebasan tipis yang banyak selain itu warnanya yang terang menyebabkan kita melihattebasannya sangat besar. Namun jika kita melihat di kegelapan tebasan tersebut terlihat seperti cakaran yang berjajar lurus tapi berdempetan."
Vina bepikir kembali, sepertinya dia masih membutuhkan informasi lagi soal ini. Vina menoleh ke arah Gladio dan kenanyakan sesuatu.
“Apakah yang di katakan tuan Guren itu benar? HEI! Otak otot!!.”
Uwah.. lidah yang pedas seperti biasa.
Gladio terdiam dengan mulut terbuka selama beberapa detik, sampai dia sadar akan pertanyaan Vina.
“O-o-oh iya, h-hebat juga kau bisa membongkar rahasia kekuatan ku yang hebat ini ha-ha-ha.”
Kelihatannya dia sendiri tidak paham dengan tekniknya sendiri, serius nih?
Aku menatap Gladio dengan tatapan menyedihkan. Jadi dia selama ini menggunakan teknik buatan dia sendiri yang bahkan teorinya sendiri dia tidak mengerti? Aku heran bagaimana dia bisa membuat teknik sihir tanpq mengerti teori.
Bersamaan dengan lamunanku. Vina melihat Gladio dengan tatapan merendahkan nya lebih dari apapun.
“Yah sudahlah, akan kuanggap perkataanmu itu benar, walau memeng perkataamu lebih terpercaya daripada pengguna teknik itu sendiri.”
Vina membenarkan kacamatanya lalu pergi keluar arena. Gladio pun pergi keluar arena sambil menatapku dengan tatapan yang mengatakan dia tak akan kalah selanjutnya.
Aku mah ogah ngelanjutin pertarugan ini_-
Situasi mulai berubah suasananya juga ausah bagus.
“Dengan begini seharusnya aku bisa keluar dari situasi merepotkan ini” pikirku dalam hati, namun ternyata ekspetasiku tak semanis realita yang akan ku hadapi.
Charlotte turun dari podium yang dia naiki itu, berjalan kearah ku dengan tenangnya. Aku melihat senyuman mengerikan keluar dari mulut yang kecil itu.
Aku punya perasaan yang tidak enak akan hal ini.
Charlotte yang semakin mendekati ku, di ikuti oleh hawa dingin yang membuat ku merinding. Aura mengerikan yang bisa membuat semua orang menunduk membisu karenanya kekuar dari tubuhnya yang munggil itu.
Charlotte menatap ku. Aku sedikit menunduk ketika melihatnya di depanku.
Ternyata dia lebih kecil dari yang ku pikirkan.
Ketika dia berada di podium itu dia terlihat lebih tinggi, apa itu karena dia berada di tempat yang tinggi? Atau efek high hels? Ya itu enggak mungkin sih.
Aku menghiraukan lamunanku tentang itu. Dan melihat charlotte yang berada di depan ku. Dia tersenyum kembali. Senyuman palsu sang malaikat kecil yang dapat mencabut nyawaku terukir di wajahnya yang imut itu.
“Sunggu kekuatan yang hebat, hey! Bagaimana kalau kamu jadi anggota kapal kami saja, kamu bisa langsung dapat jabatan tinggi lho.”
Ucap Charlotte sambil tersenyum. Sikapnya berubah, tadi aku melihat dia terlihat seperti tirani yang kejam namun, apa-apaan dengan sandiwara menjengkelkan yang di lakukan dia.
Hal baru saja di katakan Charlotte membuat hampir seluruh orang kaget.
Aku semakin curiga dengan gerak geriknya Charlotte, apa yang dia inginkan?
Aku mendengar bisikkan orang orang yang kaget kalau aku bisa masuk kedalam kapal veteran yang di oimpin oleh Charlotte.
Di samping para penonton yang kaget dan tak percaya dengan apa yang batu saja terjadi. Aku melihat Miyako dan Yui yang terlihat sedih.
Jujur, aku berhutang nyawa dengan Miyako dan Yui aku tak bisa menghiyanati perasaan mereka.
Maka dari itu aku kembali melihat Charlotte dan mengucapkan kalimat yang bahkan membuat Charlotte sendiri kaget.
“Aku.. menolak!”
[Chapter #2 END]
Komentar
Posting Komentar